Pesangon Tidak Diberi, Pengusaha Sarang Burung Walet Pecat Pekerjanya

Buser.co BATAM, Hari / Tanggal : Senin / 21 Januari 2019. Pukul : 10.30 Wib     Sang Ibu yang sehari -hari mengurusi kelima anaknya kembali ditipu oleh Big Boss Pemilik Perusahaan inisial (Sy) bertubuh gemuk besar dan berkacamata. Melalu tim pengacaranya, sebut saja (Sh) yang bertemu di halaman rumput kantor DPRD TK.II BATAM, Oknum pengacara sebut saja (S.H) menyampaikan agar ibu Vivi Susanti segera menemui pihak pengusaha sarang burung walet yang telah memecat/memphknya secara sebelah pihak agar langsung dicairkan segera pesangonnya.

Dengan kepolosan dan keluguan ibu paruh baya inipun, keesokan harinya menemui langsung Big Boss Pemilik Perusahaan PT. SDF ( Sumber Daya  Favorit ).  Dengan niat baik, tulus dan sabarnya sang ibu bertubuh gemuk dan kumal inipun dengan sangat sabar menunggui SUYANTO pemilik PT. SDF yang sehari-hari memproduksi dan mengolah sarang burung walet.

Ibu Vivi inipun langsung menanyakan Gimana masalah pesangonnya yang sudah hampir 2 (dua) tahun belum dibayarkan. Dimulai dari Pelaporan Ke Disnaker kota Batam, lalu di bola-bola ke Pengawas Tenaga kerja kota Batam dan Pengawas Provinsi Kepulauan Riaupun juga mentok dan melempem. Eeeeh... Bukan mendapatkan solusi yang terbaik Perusahaan SDF malah menantang Ex Karyawatinya,  " Kita ini Perusahaan yang sangat besar, berkantor pusat di kota Bandung dan diluar negeri atau mancanegara, kami ini memiliki aset triliunan rupiah, Ibu tidak akan mungkin bisa menghadapi kami, tutur pihak perusahaan.

"    Sang Ibupun kembali kerumahnya dan berkonsultasi dengan suami dan keluarganya, Kebetulan suami ibu Vivi ini memiliki kolega seorang pengacara yang katanya memiliki reputasi yang sangat sangat baik di Kota Batam, namun hingga saat ini Sang ibu pencari. Keadilan juga tidak menemukan keadilan bagi hidupnya.

Sementara jika pesangon itu di cairkan atau dibayarkan, ibu ini berniat akan segera melunasi sewa kontrakan yang sudah menunggak selama 3 (tiga) bulan, yang terancam akan diusir oleh pemilik kos/kontrakan. Sang ibu ini hanya bisa tertunduk dan sambil menangis tersedu-sedu. Uang Pesangon Phknya yang diharapkan cair atau dibayarkan sebesar Rp 8.000.000,- (Delapan Juta Rupiah) sesuai aturan atau perhitungan disnakerpun hanya mimpi yang tak bakal terwujud.

" Kemana lagi saya, melaporkan nasibku ini, saya tak yakin Pemerintah Republik Indonesia yang tercinta ini juga mungkin tidak dapat menolong, lebih baik saya mati bunuh diri saja ya, pak."    "Jangan bu bentak suaminya, bunuh diri itu dosa, agama manapun pasti melarang. " Sambil terus menangis  dan memeluk sebuah kitab suci, ibu inipun berlalu dan mengunci kamarnya. "      #TIM#

Tidak ada komentar