PN Medan Gelar Sidang Pemalsuan Surat Mobil : Pimpinan Perguruan Markus Medan Herry Aritonang Duduk di Kursi Pesakitan


Medan,Buser.co
Masalahkeluarga acapkali terjadi karena tak pernah puas dengan keadaan dan ingin menguasai harta berani memalsukan surat untuk kepentingan pribadi atau kelompok dengan cara apapun dapat dilakukan namun akhirnya ketahuan jua maka siap-siap malu  menginap di hotel pro deo!
Terkait hal tersebut Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan dipimpin Gosen Butar-butar SH MH gelar sidang para saksi perkara dugaan pemalsuan surat mobil Fortuner dan Vacanti atas nama pemilik Ibu tiri Bertha Uli Br Sitompul menjadi milik Herry Aritonang Pimpinan Perguruan Markus. Jln. Kapten Muslim No 226.Medan di Kantor Pengadilan Negeri Medan, Rabu (13/3/2019)
Dalam persidangan tersebut sebelumnya para dua saudara perempuan kandung Herry saksi  keluarga dan tiga orang saksi pegawai Yayasan Perguruan Markus diambil sumpahnya semua berjumlah lima orang tujuannya untuk menjelaskan agar apa yang diketahui berkata dengan sejujurnya, lalu Hakim bertanya, "Apakah saksi mengetahui siapa menjual mobil Avanza coba jelaskan?" tanya Hakim Kemudian saksi-saksi Magdalena, Anni Laura saudara kandung Herry Aritonang, Esra Paulina Aritonang, Shinta Aritonang, dan Jimmi Sihombing pegawai sekolah Markus msing-masing menjelaskan perihal mobil Avanza, Fortuner dan Picanto atas nama ibu tiri mereka Bertha Uli Sitompul yang dihadiahkan untuk Herry Aritonang dan sejak dibeli Ibu Bertiga Uli Sitompul yang memakai, ketika Bertha Uli meninggal Tahun 2015 mobil belum lunas dan yang melunasi Herry dan yang menjual Avanza adalah Herry,  demikian pengakuan saksi Magda dan Anni mengaku.

Hakim bertanya, setelah Ibu Bertha Uli meninggal mobil Fortuner sudah lunas, lalu di BBNkan BPKBnya "Apakah saksi dan seluruh saudara sekeluarga mengetahui untuk dihadirkan terkait masalah ini, siapa yang memakai mobil tersebut?" Magda dan Anni menjawab, "Gak tahu menahu masalah pelunasan dan BBN BPKB, masalah kehadiran seluruh keluarga, ga ingat  dan selanjutnya yang memakai mobil tersebut Jenni Br Sitompul isteri Herry!" demikian aku Magda dan Anni.
Selanjutnya Hakim meminta keterangan dari saksi-saksi pegawai Sekolah Markus, para saksi menuturkan terkait mobil Avanza, atas nama Berthauli Sitompul saksi Magdalena dan Anni mengaku mengetahui namun saudara lainnya tak mengetahui bahwa mobil Avanza dijual ke Show Room Jln Nibung seharga Rp105 juta, lalu biaya Rp100 juta untuk pembelian kredit mobil Fortuner ke Show Room mobil dan sisanya Rp5juta sama Herry, diakui saksi Herry yang menjemput mobil baru Fortuner ke Show Room.
Hakim Butar-butar mencecar pertanyaan pada saksi-saksi pegawai sekolah Markus lagi, masalah surat menyurat apakah saksi tau hadiah Ulang Tahun Herry siapa yang berikan mobil tersebut dan kenapa dilaporkan tentang Herry BBN nama Bertha Uli dan sebagai ada keluarga dihadirkan apakah saksi tahu?" semua saksi-saksi masalah surat menyurat BBN menjawab, "Gak tahu! namun kita tahu jelas mobil yang membeli mobil Fortuner Bu Bertha Uli Sitompul dan setelah Ibu Bertha Uli meninggal dunia cicilan belum lunas maka untuk pembayaran mobil tersebut diambil dari dana keuangan  Yayasan Perguruan Markus hingga lunas demikian aku para saksi pegawai sekolah tegas.
Pengacara Herry Aritonang  Ojak Nainggolan memintai keterangan juga dari saksi, lalu saksi menjawab,  Ibu Bertha Uli yang beli mobil Avanza. Mobil Avanza  tahu dijual untuk membeli mobil Fortuner, jawab saksi.

Terkait hal itu Hakim meminta keterangan dari Jaksa Rita Sinulingga dan kemudian Jaksa mempertanyakan,
"Mengapa nama tertera dikepemilikan mobil tersebut Bertha Uli Sitompul dan dari mana saksi tahu mobil sudah BBN?" Saksi manjawab, "Setiap bila saat tertentu menaiki mobil tersebut juga maka dari Surat STNK dan Flat kami terkejut sekali terlihat sudah berubah dari nama Bertha Uli menjadi Herry Aritonang," tutur saksi dan saat itu juga seraya Jaksa menunjukan barang bukti (BB) kepada  Hakim diperlihatkan kepada saksi
Hakim bertanya pada para saksi, "Apakah saksi keberatan atas nama Herry?" Saksi menjawab, "Tidak Pak!" Hakim meminta Herry Aritonang untuk duduk di kursi pesakitan seraya mempertanyakan padanya, "Apakah Saudara terdakwa bersedia menjawab argumen para saksi?", lalu pengacara memohon karena kondisi kesehatan Herry kurang fit  tidak bersedia merespon semua argumen para saksi. Hakim mengetok palu sidang dilanjutkan kembali pada Rabu, 20/3/2019
Sementara saat sidang seorang yang hadir menyatakan kurang setuju dalamm persidangan Herry Aritonang notabene terdakwa memakai Kaosberwarna putih dan tidak memakai rompi atau berwarna orange baju tahanan.
Perlu diketahui sebelumnya pelapor putra kandung Bertha Uli Br Sitompul Rubby Aritonanglah membuat laporan saudara tirinya Drs Herry Aritonang ke Poldasu terkait pemalsuan surat-surat mobil Ibu kandungnya yang  dikuasai Herry Aritonang (Abang tiri)
Sebab ada dalam pasal 263 KUHP tertulis "Barang siapa membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan  sebagai bukti dari  sesuatu hal, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain pakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan  kerugian, karena pemalsuan  surat dengan pidana  penjara paling lama enam tahun.
Dengan hukuman serupa itu juga dihukum, barang siapa dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang di palsukan itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, kalau hal mempergunakan dapat mendatangkan sesuatu kerugian. (Linche)

Tidak ada komentar